Pedagang Abdya tak Bersedia Jual Beras ke Bulog, Ini Penyebabnya

  • Posted by: admin

Petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) memanen padi menggunakan mesin pemotong, Jumat (9/11/2018). Saat ini petani di kawasan itu sedang melakukan panen raya, namun mereka menolak menjual hasil panennya kepada Bulog karena harga jual yang rendah.

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE – Petani dan pengusaha kilang padi di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), tak bersedia menjual beras ke Perum Bulog Sub Divre Blangpidie.

Penyebabnya, harga Gabah Kering Panen (GKP) pada musim panen raya di tingkat petani saat ini masih jauh dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP)

Saat ini sejumlah petani di kabupaten itu sedang melaksanakan panen raya Musim Tanam (MT) Gadu 2018 dengan luas tanam mencapai seluas 10.267 hektare (ha).

Tanaman padi unggul tersebar di sembilan kecamatan, panen raya tengah berlangsung enam kecamatan, yaitu Blangpidie, Susoh, Jeumpa, Kuala Batee, Setia dan Tangan-Tangan. Tiga kecamatan lainnya juga segera memasuki panen raya, yaitu Manggeng, Lembah Sabil dan Babahrot.

Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya melaporkan bahwa tingkat produksi gabah berkisar antara 8 sampai 9 ton GKP per hektare (ha).

Bila produksi rata-rata 8,2 ton per ha dengan luas areal tanam 10.267 ha, maka stok gabah di tingkat petani Abdya pada MT Gadu 2018 mencapai 84.189 ton.

Namun para pengusaha kilang padi di Abdya sebagai mitra Perum Bulog lebih memilih menjual beras hasil panen mereka ke pasaran atau pihak ketiga.

Kepala Perum Bulog Sub Divre Blangpidie, Sailan, saat dihubungi Serambinews.com, Jumat (9/11/2018) mengakui, beras lokal hasil panen raya kali ini belum berhasil diserap.

Soalnya, harga gabah di tingkat petani jauh di atas HPP (Harga pembelian Pemerintah).

Harga GKP di tingkat petani di Abdya pada panen raya MT Gadu 2018 saat ini berkisar antara Rp 4.800 sampai Rp 4.900 per kilogram, malahan di awal panen harga gabah mencapai Rp 5.200 per Kg. Sedangkan harga GKP pembelian bulog sesuai HPP hanya Rp 4.070 per Kg.

Dalam hal ini, Perum Bulog Sub Divre Blangpidie memang tidak membeli gabah, melainkan membeli beras dari mitra usaha (pengusaha kilang padi) dengan tingkat harga sesuai HPP Rp 8.030 per Kg yang terima di gudang Bulog.

Tingkat harga tersebut masih jauh di bawah harga pasaran yang mencapai Rp 9.000 per Kg.

Meskipun belum ada pengusaha kilang padi yang bersedia menjual beras ke Gudang Bulog, Kepala Perum Bulog Sub Divre Blangpidie, Sailan mengatakan hal ini belum berdampak pada berkurang stok beras di gudang Bulog setempat.

Dijelaskan, stok beras yang ada saat ini lebih dari 1.700 ton. Stok beras itu disimpan di tiga gudang, yaitu Gudang Padang Baru (Abdya), Gudang Padang Asahan (Aceh Selatan), dan Gudang Blegen Mulia (Kota Subulussalam).

“Stok yang kami kuasai saat ini masih cukup untuk penyaluran beberapa bulan ke depan,” kata Sailan.

Dikatakan cukup untuk penyaluran beberapa bulan ke depan, karena penyaluran beras satu bulan hanya 222, 3 ton untuk beras ranstra (beras keluarga sejahtera) bulan November dan Desember 2018 untuk Kabupaten Aceh Selatan dan Aceh Singkil.

Sedangkan ranstra untuk Kabupaten Abdya dan Kota Subulussalam sudah berubah menjadi Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).

Menurutnya, kalau pun sempat terjadi kekurangan stok beras, maka bisa dipasok dari Gudang Aceh dan Sumut.

“Jadi tak ada masalah, kalau pengusaha kilang padi belum menjual beras ke Bulog karena stok beras yang ada masih cukup untuk penyaluran beberapa bulan ke depan,” ungkapnya.(*)

Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2018/11/09/pedagang-abdya-tak-bersedia-jual-beras-ke-bulog-ini-penyebabnya

Author: admin

Leave a Reply