Menjaga Lumbung Beras, Identitas Kota Solok Serambi Madinah

Menjaga Lumbung Beras, Identitas Kota Solok Serambi Madinah

  • Posted by: admin

Aktivitas petani saat panen padi di sawah Solok yang tak jauh dari Balai Kota Solok (Klikpositif)

Cita rasa beras Solok lebih nikmat dari kiasan lirik lagu lawas Elly Kasim. Nama beras Solok pun populer hingga ke pelosok nusantara. Tak heran, harganya lebih tinggi dibandingkan jenis beras lain di daerah Sumatera Barat.

Uniknya, kendati benih varietas padi yang sama ditanam di daerah lain, cita rasanya akan berbeda dengan beras yang dihasilkan di tanah Kota Solok , dan sebagian Kabupaten Solok. varietas Sokan dan Anak Daro jadi unggulan.

Walaupun subur di dua daerah, citra beras Solok seakan sangat lekat dengan Kota Solok , tergambar dalam julukan Kota Beras Serambi Madinah . Julukan ini tidak hanya sebatas pemanis, tapi dibuktikan dengan produksi beras yang terus surplus.

Sampai detik ini, hamparan sawah di daerah dengan luas 57,64 kilometer persegi itu masih terawat dengan baik. Hilir mudik petani tetap menghiasi di tengah bisingnya lalu lalang kendaraan.

Kerbau dan Bangau menjadi pemandangan saat musim tanam datang. Kondisi tersebut seakan mengisyaratkan alam Solok masih terjaga dan asri. Sawah Solok tetap bertahan ditengah masifnya kehidupan perkotaan.

Data Dinas Pertanian Kota Solok , Areal sawah Solok tersebar di dua kecamatan, di kawasan Lubuk Sikarah terdapat lebih kurang 676 hektare. Kemudian, di kawasan Tanjung Harapan lebih kurang 200 hektare.

Setiap tahun, produksi padi dari sawah Solok terus menunjukkan grafik naik. Tahun 2018, di areal dengan luas sekitar 876 hektare, produksi padi mencapai 16.521,60 ton. Setahun kemudian, naik menjadi 17.823,57 ton dan tahun 2020 mencapai 17.915,49 ton.

“Luas tanam per tahun berkisar dari 2.500 – 2.600 hektare, dengan rata-rata masa tanam 2,85 kali per tahun,” kata Kepala Dinas Pertanian Kota Solok , Ikhvan Marosa, Selasa (7/12/2021).

Gabah hasil produksi sawah Solok, 55 persen dibeli dan diolah oleh pedagang asal Kota Solok . Sementara berasnya dipasarkan sampai ke berbagai provinsi di Indonesia.

Sementara itu, 45 persen atau sekitar 8 ribu ton lebih dibeli oleh pedagang atau toke padi dari luar daerah, seperti pedagang dari Kabupaten Solok, hingga Payakumbuh.

Merawat Keberlangsungan Beras Solok

Dalam merawat keberlangsungan beras Solok, terutama varietas Cisokan dan Anak Daro, setiap tahunnya Dinas Pertanian Kota Solok melakukan pembuatan benih penjenis, benih dasar dan benih pokok.

“Benih pokok padi varietas Anak Daro dikembangkan melalui penangkar Desa Mandiri Benih (DMB) untuk menghasilkan benih sebar yang bersertifikat, benih ini yang nantinya didistribusikan kepada para petani sehingga terjaga kualitasnya,” jelas Ikhvan Marosa.

Dalam meneguhkan identitas Kota Solok sebagai lumbung beras, pada tahun 2017, Pemerintah Kota Solok melakukan pengurusan Indikasi Geografis Bareh Solok melalui Masyarakat Pelindung Indikasi Geografis Bareh Solok (MPIG-BS).

Upaya yang dilakukan pemerintah Kota Solok tidak sia-sia, Desember 2018 lahir surat keputusan Indikasi Geografis (IG) Bareh Solok yang dikeluarkan Kemenkumham terhadap beras varietas Anak Daro dan Cisokan.

“Saat ini, kami tengah melakukan pembinaan MPIG Bareh Solok untuk memproduksi Bareh Solok bersertifikat IG yang terjamin kemurnian dan kualitasnya,” bebernya.

Ulang tahun ke-51 Kota Solok yang bertepatan pada 16 Desember 2021 mendatang, seakan menjadi momen berharga dalam memperkuat beras Solok sebagai brand daerah. Panen bersama padi Anak Daro akan ikut menyemarakkan rangkaian peringatan hari jadi Kota Solok .

“Merayakan hari jadi Kota Solok , Kita akan panen 10 demplot padi Anak Daro berlabel seluas 10 hektare di tiga kelurahan, rencananya 23 Desember 2021. InsyaAllah langsung dipanen Wali Kota Solok ,” tutur Ikhvan Marosa.

Ancaman Beras Oplosan

Beras Solok yang tergolong beras jenis premium, membuat harga jualnya cukup tinggi. Hal ini kerap dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab untuk mencari keuntungan.

Beras murni yang dihasilkan dari sawah Solok, dicampur dengan beras kualitas medium yang didatangkan dari daerah lain, namun tetap dipasarkan dengan label Beras Solok Asli.

Kondisi ini mengancam eksistensi beras yang sejak lama menjadi brand Kota Solok . Praktik curang pengoplosan beras Solok seolah menjadi benalu yang menggerogoti pasar beras Solok.

Sekretaris Masyarakat Pelindung Indikasi Geografis (MPIG) Bareh Solok, Yuzaldi Maison mengakui, sulit saat ini mencari beras Solok murni di tingkat pedagang.

“Itu kenyataan yang kita hadapi saat ini, sebagian besar beras Solok yang ada di pasar sudah bercampur dengan beras dari daerah lain,” katanya.

Jika tidak ada tindakan serius dari pemerintah dan pihak terkait, pengoplosan beras Solok, terutama vaietas Cisokan dan Anak Daro akan terus berlanjut. Beras Solok oplosan akan merugikan petani, pedagang jujur dan daerah. Beras Solok yang betul-betul murni, harganya sama dengan beras oplosan.

Untuk diketahui, beras Solok merupakan salah satu dari tiga jenis beras yang sudah mendapat paten dari pemerintah, disamping beras Cianjur dan Beras Krayan yang jadi favorit Raja Brunei.

Praktik pemalsuan beras Solok sebenarnya sudah menjadi kerisauan bagi MPIG. Namun, pihaknya tidak bisa berbuat banyak lantaran keterbatasan kewenangan dan anggaran.

Semestinya, kata Yuzaldi, pengawasan sudah dilakukan dari awal, sejak penggunaan benih. Harus jelas asal usul benih yang digunakan. Kemudian pengolahan dan pengelolaan pasca panen.

“Dengan pengawasan produksi dan pengolahan beras Solok dari hulu hingga hilir, kemurnian dan kekayaan cita rasa beras Solok bisa terjaga. Perlu kemasan khusus dengan barcode, sehingga tidak bisa dipalsukan,” katanya.

Ke depan, mestinya ada perusahaan daerah yang bergerak khusus dalam pengolahan produk pangan, terutama pengelolaan beras Solok. Selain kemurniannya bisa terjamin hingga ke tangan konsumen, secara otomatis standar harga bisa dinaikkan.

Waspada Alih Fungsi Lahan

Merawat keberlangsungan beras Solok tak terlepas dari komitmen pemerintah daerah. Hamparan luas sawah Solok akan terus terjaga untuk anak cucu, jika “dipagar” dari masifnya pengembangan kota dan pemukiman warga.

Dinas Pertanian Kota Solok mencatat, dalam kurun tiga tahun terakhir saja, setidaknya dua hektare sawah produktif di sejumlah kawasan di Kota Beras telah beralih fungsi.

“Dalam tiga tahun terakhir, terjadi pengurangan atau alih fungsi lahan sawah Solok sekitar 2 hektar, mayoritas untuk perumahan dan juga tempat usaha,” cetus Ikhvan Marosa.

Semakin tingginya pertambahan penduduk membuat kebutuhan akan lahan pemukiman semakin meningkat. Kemudian, perkembangan dunia usaha juga menjadi salah satu faktor yang mengancam kelestarian sawah Solok.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di Kota Solok terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2015, jumlah penduduk Kota Solok berjumlah 66.106 jiwa, dan tahun 2019 tercatat sebanyak 71.010 jiwa, bertambah 4.900 jiwa.

Secara kasat mata, alih fungsi lahan produktif sawah Solok bisa dilihat di sejumlah titik di sepanjang ruas jalan utama Lubuk Sikarah. Bangunan ruko hingga rumah makan berdiri diatas areal yang sebelumnya difungsikan sebagai sawah.

Harus ada tindakan serius dari Pemerintah Daerah mengantisipasi alih fungsi lahan. Regulasi soal pelestarian sawah Solok sangat mendesak. Bila dibiarkan, sawah Solok akan terus menyusut setiap tahunnya.

Ancaman ini cukup disadari Pemerintah Kota Solok . Menurut Wali Kota Solok , H. Zul Elfian Umar, pihaknya melalui dinas terkait tengah melakukan pengkajian dan penyusunan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

“Lahan LP2B ini nantinya akan kita jadikan Peraturan Daerah, sekarang kita masih menunggu revisi Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Solok 2012-2032 yang dilaksanakan dinas PUTR,” tuturnya.

Ke depan, semestinya tidak ada lagi alih fungsi sawah Solok. Jika tidak memungkinkan penambahan areal sawah Solok, setidaknya berusaha mempertahankan yang sudah ada. Jangan sampai beras Solok hanya bisa didengarkan lewat lagu, tanpa bisa dikecap lidah generasi berikutnya.

” Beras Solok kebanggan kita semua, dan beras ini tumbuh di sawas Solok. Tugas bersama bagaimana menjaga kemurnian berasnya dan melesarikan sawahnya,” tutup Wako Solok.

Sumber : https://news.klikpositif.com/baca/100068/menjaga-lumbung-beras-identitas-kota-solok-serambi-madinah.html

Author: admin

Leave a Reply