Harga Beras Nasional Konsisten Lebih Tinggi Dibanding Beras Internasional

Harga Beras Nasional Konsisten Lebih Tinggi Dibanding Beras Internasional

  • Posted by: admin

BULOG Yogyakarta menjamin ketersediaan beras di bulan puasa.*/DOK. KABAR BANTEN /null

PIKIRAN RAKYAT – Harga beras nasional secara konsisten selalu lebih tinggi daripada beras internasional. Hal ini menyebabkan konsumen harus membayar lebih mahal.

Data BPS 2019 menunjukkan, beras dikonsumsi sebanyak 270 juta jiwa di Indonesia dengan rata-rata tingkat konsumsi sebesar 96,3 kilogram per kapita setiap tahunnya.

Jumlah tersebut pada akhirnya menjadikan Indonesia sebagai konsumen beras terbesar di dunia. Tingginya harga beras nasional, salah satunya, disebabkan oleh penerapan kebijakan non tariff measures (NTM) atau kebijakan non tarif dalam tata niaganya.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, mayoritas beras yang dikonsumsi rakyat Indonesia berasal dari produksi domestik. Namun Indonesia juga termasuk ke dalam negara-negara importir beras.

Berdasarkan data BPS 2019, Indonesia mengimpor sebanyak 35% beras dari Thailand dan 34% dari Vietnam di 2018.

Felippa menuturkan, berdasarkan data United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) 2019, terdapat 54 kebijakan NTM atau non tarif yang dikenakan pada beras.

Salah satunya adalah Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 01 Tahun 2018 yang menyatakan bahwa beras hanya dapat diimpor oleh Bulog (badan usaha milik negara untuk logistik nasional) setelah menerima otorisasi resmi dari Kementerian Perdagangan.

”Otorisasi ini dihasilkan dari rapat koordinasi menteri yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinasi Perekonomian dengan kementerian terkait. Keputusan untuk mengimpor beras harus mempertimbangkan beberapa hal, seperti stok beras Bulog, perbedaan harga, dan / atau produksi beras nasional. Data pertanian yang tidak sama antar instansi juga dijadikan dasar pengambilan keputusan ini,” tutur Felippa, dalam keterangan tertulisnya, Minggu 26 Januari 2020.

Panjangnya proses birokrasi ini seringkali menghalangi Bulog untuk mengimpor di saat harga internasional sedang rendah. Yang terjadi seringkali adalah Bulog harus mengimpor di saat harga beras internasional tinggi dan masa itu bersamaan dengan masa panen petani domestik. Pada akhirnya, petani juga yang dirugikan.

“Padahal petani juga termasuk konsumen. Implementasi berbagai kebijakan NTM ini seringkali dijustifikasi oleh argumen swasembada pangan di mana Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, memastikan beras domestik mendominasi pasar dan melindungi petani beras domestik,” ujar dia.

Penerapan kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) lewat Permendag Nomor 57 Tahun 2017 yang menetapkan kisaran harga beras antara Rp9.450 hingga Rp10.250 untuk beras kualitas menengah juga tidak efektif. Pada kenyataannya harga beras nasional secara konsisten lebih tinggi daripada harga internasional. Pada Oktober 2019, harga beras Indonesia adalah Rp12.108 (USD 0,87) per kilogram.

Harga ini dua kali lebih mahal dari harga internasional Rp5.899 (USD 0,42). Berdasarkan data Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian 2019, harga beras saat ini mengambil 11,42% dari semua konsumsi pangan.***

Sumber : https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01334574/harga-beras-nasional-konsisten-lebih-tinggi-dibanding-beras-internasional

Author: admin

Leave a Reply