Harga Beras 50 Kg di Palu Tembus Rp1 Juta

  • Posted by: admin

Sebanyak 200 personel Yonzipur-8/SMG Kodam XIV/Hasanuddin di bawah pimpinan Danyonzipur Mayor Czi Catur Witanto, bergeser dari Pelabuhan Lembar NTB menuju Pelabuhan Pantoloan Palu, Senin (8/10/2018).

PALU, TRIBUN — “Palu mulai memasuki masa dimana uang tak ada arti. Beras lebih penting dari pakaian atau rumah,” ujar Arief (34), warga Jl Dewi Sartika, Palu, Senin (15/10) siang, usai antre membeli makanan di Super Market Grand Hero Jl Basuki Rahmat, Kota Palu.

Arif yang lahir dan besar di Kota Palu ini, menggambarkankan kondisi kota berpenduduk 370 ribu, sebelum gempa ini, ibarat kota relawan.

Memasuki pekan ketiga masa Tanggap Darurat, atau 18 hari pasca-gempa, Senin (15/10), harga beras melonjak dua kali lipat.

Efek tiga bencana alam; gempa, tsunami dan likuefaksi di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, mulai meringsek ke tatanan perdagangan dan distribusi pangan.

Harga beras 1 kg nya berkisar Rp 16 ribu hingga Rp20 ribu. Sebelumnya saat normal, harga beras [er kg brkisar Rp 9.000 hingga Rp12 ribu.

“Di Pantoloan, harga beras Kepala 50 kg sudah Rp 1 juta Pak, di Kota Palu, yang dulunya cuma Rp 420 ribu, sekarang sudah tembus Rp600 ribu, itu kita yang jemput,” ujar pedagang yang tempat kerjanya di Kawasan Taipa, sekitar Pelabuhan Pantoloan, timur Palu, juga hancur dihantam gempa dan tsunami.

Pantoloan adalah salah satu pusat ekonomi dan distribusi ekonomi terbesar di Palu, yang luluh-lantah karena bencana.

Bawa Ribuan Ton Bantuan, Kapal Kemanusiaan Berlabuh di Palu

Bawa Ribuan Ton Bantuan, Kapal Kemanusiaan Berlabuh di Palu ()

Jaraknya dari garis Pantai Teluk Palu, hanya sekitar 50 hingga 200 meter.

Arif belum tahu, sampai kapan kondisi ekonomi darurat ini berlangsung.

Dia memperkirakan, jika tak ada pasokan pangan dari luar Palu, kondisi barang mahal ini aklan berlangsung hingga tahun depan.

Areal persawahan di daerah Kulawi, sekitar 50 hingga 70 km sebelum kota Palu, kini banyak yang tak dialiri irigasi.
Sungai Mumbasa, sumber utama bendungan di Kulawi, kini airnya tak mengalir baik. Dugaan sementara, sumber air sungai di hulu ikut terpapar gempa atau likuefaksi.

Antrean panjang warga di depan toko-toko dan super maket masih panjang dan mengular.
Di Carrefour Supermarket, Jl Mohammad Hatta No 2, Palu Selatan, kawasan Lolu Utara, warga tak masuk ke toko.

Antrean panjang, karena harga bahan pokok di toko ini masoih terbilang normal, seperti sebelum gempa.

Toko serba ada ini masih dijaga aparat TNI dan polisi. Manajemen toko masih takut adanya aksi kriminal dan isu penjarahan seperti hari ketiga pasca-gempa.
“Kita catat apa yang kita mau beli, lalu pelayan masuk ambil barang. Itupun, hanya bukan jam 2 siang sampai jam 5,” katanya.

Arif menggambarkan, toko baju, kebutuhan subtitusi seperti sandang, papan, furniture, alat elektronik, masih sepi.

Yang ramai itu, warung makanan. Kalau di pasar, yang banyak pembelinya yang jual ikan, lombok, bumbu dapur, dan ayam potong, itupun harganya sudah hampir dua kali lipat.

Dari pantauan Tribun, Kota Palu dan sekitarnya, masih sepi.

Di jalan-jalan protokol, yang lalu lalang hanya relawan, arapat TNI.

Hampir sekitar 100 ribu, warga Palu kini berada di pengungsian. Baik itu di sekitar Kota Palu, Sigi, Donggala, Mamuju Utara, dan luar provinsi seperti Makassar, Samarinda, Manado, Gorontalo, Luwuk Banggai, dan Poso.

Digambarkan, kondisi Kota Palu di malam hari, laiknya kota mati. “Jam 8 malam itu, serasa sudah seperti jam 12 malam. Sepi dan tak ada lagi yang lewat,. Hanya tenda-tenda relawan yang lampunya masih menyala,” (san/zil)

Sumber: http://makassar.tribunnews.com/2018/10/16/harga-beras-50-kg-di-palu-tembus-rp1-juta

Author: admin

Leave a Reply