Cadangan Beras di Jogja 16,7 Ton, Bisa Dikeluarkan Setiap Saat

Cadangan Beras di Jogja 16,7 Ton, Bisa Dikeluarkan Setiap Saat

  • Posted by: admin

Foto ilustrasi. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan

Harianjogja.com, JOGJA— Ketersedian stok pangan menjadi aspek yang penting di tengah pandemi Covid-19. Oleh karenanya, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja menyatakan jika stok pangan berupa cadangan beras di wilayah Kota Jogja sampai saat ini sebanyak 16,7 ton.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota JogjaSugeng Darmanto menyatakan jika cadangan pangan berupa beras sebesar 16,7 ton yang dimiliki oleh Kota Jogja tersebut sifatnya on call dan bisa digunakan setiap saat.

“Bisa digunakan setiap saat, misalnya terjadi inflasi, terjadi bencana alam maupun sosial, jika ada perintah dari Walikota kepada pelaksana yakni kami [Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja] untuk mengeluarkan, segera akan kami keluarkan,” ujar Sugeng, Minggu (12/7/2020).

Pada awal-awal pandemi Covid-19, lanjut Sugeng, sebenarnya cadangan pangan berupa stok beras tersebut bisa saja dikeluarkan. Namun, karena masih bisa ditanggulangi dengan bantuan sosial akhirnya tidak dilakukan.

“Sehingga kami belum mengeluarkan itu [stok pangan berupa beras] karena belum mendesak. Kecuali benar-benar sangat mendesak baru akan kami distribusikan. Sebanyak 16,7 ton beras itu merupakan cadangan Pemkot Jogja yang dipersiapkan jika ada bencana dan sifatnya on call, bisa dikeluarkan setiap saat,” jelas Sugeng.

Berdasarkan peta pangan di wilayah Kota Jogja, tidak ada daerah yang dinilai kekurangan stok pangan. Tidak ada kesulitan bagi masyarakat untuk mendapatkan bahan pangan. Namun, yang menjadi perhatian adalah daya beli masyarakat.

“Hal tersebut dikarenakan kemiskinan dan sebagainya. Tapi, program untuk menanggulangi itu kan juga sudah ada seperti bantuan langsung tunai saat pandemi Covid-19. Cadangan stok pangan aman, stok beras juga aman, hingga ada BLT, saya rasa tidak begitu mengkhawatirkan kalau melihat peta pangan di wilayah Jogja,” jelas Sugeng.

Imbas dari Covid-19 memang berdampak terhadap peta konsumsi masyarakat. Data dari instansinya menyatakan, persentase daya beli masyarakat di Jogja turun sekitar 55 sampai dengan 10 persen.

“Karena masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 juga kan dibantu oleh program sosial dari pusat maupun dari APBD Kota. Sehingga, ketika mereka juga mendapatkan substitusi dalam hal ini seperti beras dan lainnya sehingga bisa,” ungkap Sugeng.

Kepala Bulog Divre DIY, Juaheni, sebelumnya mengatakan jika ia dan jawatannya sudah melakukan pengadaan gabah untuk mengantisipasi peningkatan yang cukup signifikan terhadap kebutuhan beras di masyarakat.

“Pembelian gabah maupun beras dari petani sudah kami lakukan. Karena memang panen ini di posisi April, Mei, Juni yang cukup tinggi. Sebenarnya pada Maret lalu sudah dimulai panennya. Gabah tersebut akan disimpan agar nantinya ketika dibutuhkan akan kami proses hingga beras masih segar,” ujar Juaheni.

Lebih lanjut, stok gabah yang berada di gudang Bulog divre DIY per bulan Mei lalu mencapai 20.000 ton. Stok gabah diklaimnya cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat jelang lebaran ini. Sisi lainnya, harga gabah dari petani juga terus dipertahankan agar tidak jatuh.

“Kalau harga memang sudah dipatok oleh Kemendag. Untuk gabah dari petani yakni Rp5.300 per kilogram. Sedangkan, untuk beras harga dari petani yang kita beli adalah Rp8.300 untuk beras medium, kalau Bulog sejak dulu tidak bisa membeli harga di bawah itu, walaupun di pasar harganya jatuh, agar petani tidak dirugikan,” ungkapnya.

Sumber : https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2020/07/13/512/1044240/cadangan-beras-di-jogja-167-ton-bisa-dikeluarkan-setiap-saat

Author: admin

Leave a Reply